Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Piwulang

Pitudúh : # 1
Pangéran Kang Måhå Kuwåså (Gusti Allah, Tuhan) iku siji, angliputi ing ngêndi papan, langgêng, síng nganakaké jagad iki saisiné, dadi sêsêmbahan wóng saalam donyå kabèh, panêmbahan nganggo carané dhéwé-dhéwé.
 Pitudúh : # 2Pangéran Kang Måhå Kuwåså iku anglimput ånå ing ngêndi papan, anèng sira ugå ånå Pangéran (maksudé : tajaliné Kang Múrbèng Dumadi). 
Pitudúh : # 3Pangéran iki Måhå Kuwåså, pêpêsthèn såkå karsaning Pangéran ora ånå síng biså murúngaké.
Pitudúh : # 4
Pangéran iku nitahaké sirå lantaran båpå lan biyúngirå, mulå kudu sirå ngurmati marang båpå lan biyúngirå.
Pitudúh : # 5
Ing donyå iki ånå róng warnå síng diarani bêbênêr, yakuwi bênêr mungguhíng Pangéran lan bênêr såkå kang lagi kuwåså.
 
Pitudúh : # 6Kêtêmu Gusti (Pangéran) iku lamún sira tansah élíng. 
Pitudúh : # 7Cåkrå manggilingan (uríp iku ibaraté rodhå kang tansah mubêng).

senjakala sang perjaka

keraguan adalah manifestasi dari ujar-ujar
karena memberontaki takdir tiada guna
alam sudah menegoisasi setiap rancangan baginda,
sang pemilik surga, sang pemecah rekor keabadian

akankah pujangga mendustai realita, ketika mentari surut di horizon?

kelak benih kitalah penjaga planet ini
merampungkan sinergi yang kita mulai
membentangkan kepingan impian kita
meludahi setiap kultur kemapanan
dan menghancurkan ideologi tak berarti

kawan,.... saatnya engkau menjabat tangan setan
mengarak para malaikat menuju penampungan!
melarikan diri dari kesucian yang terlanjur menghampar dipadang gersang

saatnya pula engkau ternoda oleh sebuah ikatan
meronai merah pipi pujaanmu dengan jilatan dendam kesumatmu....

saatnya nanti dipagi hari, terdengar sayup spider & the fly,
ada secangkir kopi menanti di ujung ranjang
sebungkus sigaret terparkir disampingnya....dan
bibir merah menyapa mesra berkata "masihkah bisa kita mengulangi perbuatan semalam?"

bukankah itu yang kau pikirkan kawan? (aku yakin engkau tak akan malu lagi mengumandangkan "waiting on a friend" aku jamin !)

catatan si aya : pekat

secangkir kopiku masih hangat di meja tamu, setelah aku gagal menjumpaimu

ada sedikit kecewa menggantung di benak ini, ada apa ?

kemarin .....

ranah meja kerjaku kau hampiri, seperti biasa berbincang tentang tuhan yang pernah kita remehkan

berbuih-buih sumpah serapahmu memukul amarah mereka para pemasung pengeja intelektual....

kita hendak kemanakan dosa ini?

jika kau hanya menghibur diri dengan dunia amburadul ini! selorohmu tajam menyeka keringat ilusiku....

itu yang aku ingat selain kata-katamu tentang suku-suku peradaban imperial, hasil hasutan pemukul genderang perang ! dunia dari dulu tidak beradab ! sampai sekarangpun tata logika sudah sekarat !

kini....

awan pekat itu menggelar di ufuk kefanaan, ditingkah gerimis dan gelegar halilintar aku bersimpuh,....

aku dahaga pada orang-orang sepertimu, pada beliau-beliau yang dulu memberi jawaban pada kertas kehidupanku, dan yang membelalakkan mataku pada ritme kelam, pekat menghitam....

aku masih bersimpuh

aku tenggelam pada kenanganmu, mereka, dan semua yang sekarang sudah membisu di relung bumi

hanya nama-nama tertinggal di hamparan ingatku....

istirahatlah kawan, kembalilah darimana kau berasal

gerimis masih saja....

seperti dulu, kemarin, sekarang dan mungkin esok....

mendung menggantung....

....aku membayangkan menabur bunga dipusaramu

catatan si aya: terlalu indah untuk diburamkan

masih terlihat hujan....
aku memandangnya di jendela
dan jendela masih buram....
ada tetesan air....
bukan rinai hujan
jatuh dipipi....
langit masih gelap
sore yang gelap
mendung....
hari ini terlalu indah untuk diburamkan

catatan si aya

dia duduk di pinggir, berdua dengan serigala betina, sedangkan aku tetap berdiri mengamati raut mukanya yang cemas, mungkin dia sedang terburu-buru menunggu waktu yang akan menjemputnya menuju perjalanan di ujung lazarus.

aku diam tak bergeming, tapi dia masih mengamatiku waspada,....

bukankah hari ini dia harus beristirahat untuk perjalanan nanti (sebenarnya aku menginginkan dia pergi, setelah tahu dia menginginkan sesuatu!) ada gurat wajah yang berbeda ketika aku simak rautnya,.... sebuah kekecewaan?

ah,....mungkin aku terlalu menjaga jarak dengannya? atau aku keliru menafsirkan deretan bintang yang ditunjuknya?

perlahan dia menggeser tubuhnya, menghampiriku....ya, dia datang mendekat! aku tercekat!

ada bau tubuhnya memaksa masuk di indra penciumanku, bau yang lama tetapi terasa baru untukku....

perlahan bibirnya bergerak, seperti bergumam,....

aku tidak bisa mendengarkan suaranya, aku terlalu tuli tertutup suara riuh rendah burung camar,....

aku hanya diam memandangnya, iapun terdiam seperti mengerti bahwa percakapan tanpa timbal balik akan percuma.

sepertinya aku semakin mengerti dia hanya ingin melihatku saja, tanpa harus bicara, tanpa harus memberiku bunga, bahkan tanpa menginginkan apa-apa,.... jadi persetan dengan segala tetek bengek relationship, hubungan jarak jauh, telepati, ataupun dialog-dialog dunia maya!

bersurut aku meninggalkannya untuk menghampiri perahu yang akan membawaku di tepi dermaga laut hitam

dikejauhan dia masih terdiam memandangiku, tersenyum....

didalam ruang lubuk hatiku dia berkata "aku malas mengucapkan selamat tinggal, karena kita masih dalam perjalanan yang kita tidak akan tahu arah, tujuan, dan ujung perjalanan, kita masih tetap bersama di dunia kita yang rapuh!

dunia tanpa kata-kata, tanpa bicara seperti manusia lain....mungkin engkau menipuku agar aku tetap diam, agar menjauh darimu dengan alasanmu yang paling masuk akal, berjalanlah dan tetaplah menoleh kebelakang!"

aku mengerti sekarang....dan aku tersenyum dan tetap diam, ya .... tetaplah diam!

kita memang tidak bisa seperti mereka, jadi selamat bersedih....

ilusi benda mati

semenjak manusia berkerumun di dunia
ada sekujur nista teranggap
sebuah warisan kredibilitas
dari essensi kenabian

guratan historikal ini berpendar
sekarang dan selamanya
berpacu menengarai waktu
dari sunyi senyapnya tafakur

kita bagian dari doktrinasi basi
ideologi kenisbian yang sama

disini ilusi itu beraksi.....
menari di otak kita!

....dan bumi masih berputar

Kita masih duduk di sofa ini, menatap kosong tak bergeming. Ada gurat kesedihan, dan kekecewaan tergambar di rautmu, pias rona merah dipipimu memberikan sedikit pendar diantara pucat kulitmu.

“Aku ingin bicara….” Katamu parau memecah keheningan.
Masih dengan mengepulkan asap sigaret perlahan aku beranikan melihat sorot mata itu, sorot mata yang dulu pernah singgah di setiap kecamuk rinduku, sorot mata yang tak pernah berhenti aku ceritakan pada setiap orang yang aku temui di penjuru planet ini.

Aku masih menatap kasihan melihat binar mata itu, dan yang aku lihat sekarang hanya puing-puing pengkhianatan berserak layaknya seonggok sampah dipinggiran pasar.
Ya.... sebuah pengkhianatan selalu terungkap di bagian akhir sebuah cerita !

“Ada yang datang”, kataku setengah berbisik, perlahan aku berdiri, berjalan perlahan setengah mengendap. Aku buka sedikit gorden biru lusuh warisan ibuku yang masih tergantung setia di kaca depan ruang tamu.

“Dia datang”, kataku dengan datar dan masih setengah berbisik,
“Kalau begitu aku pulang saja” katamu pelan tertahan, ada kekecewaan terpancar di wajahmu,
“Ya sudah,….kalau itu maumu !”

“Suatu saat,….” Katamu berbisik pelan hampir tak terdengar

“Aku buka pintu dulu” aku bergegas menuju pintu depan
si Ozra & ilu masih berdiri menunggu pintu dibuka,

“Hai !!!” tumben maen?”
“Nih mau ngambil lukisan, kan dulu pernah aku titipin kesini kan?”
“OK! Tuh dibelakang !”

“Yuk semua!”, katamu bergaya riang ” aku jalan duluan…”

“Kok dia pulangnya cepet-cepet?”
“Biasa,…. Lagi datang bulan,…. He… he…” kataku berlagak bodoh.

“Sudah nih” Ozra berpamitan, ada raut curiga tertempel di raut wajahnya yang lusuh berkeringat terkena terik matahari,

“Ok!” teriakku santai menjawabnya.

Aku tutup lagi pintu rumah ini, dan sendiri lagi disini,…

Pukul 4 sore saat tepat menyendiri dibelakang, memandang air kali penuh sampah plastik,
dan hijau rumput liar mengingatkanku akan hamparan sawah,
byuuuhh….ada sesuatu di hati ini, sesuatu yang aku pikir sangat luar biasa
andai semua rasa dimuka bumi ini di aduk jadi satu , mungkin seperti itu....

Aku hanya percaya satu hal bahwa aku tidak pernah memikirkan hari esok
dan aku menikmati saat ini, dimana sebuah cerita kadang memang tidak perlu diceritakan
apalagi itu sebuah pengkhianatan !

matahari makin tenggelam, boim masih bersimpuh di tanah dengan ekor yang masih tetap selalu gimbal, aku masih diam menikmati hawa sore dengan segelas kopi dan setengah bungkus sigaret,…. Dan bumi masih berputar.

Peluh sudah luruh, .... maka menjauh !

Gelap itu menakjubkan !

tertera di kitab kita, kalau gelap itu selalu salah
seperti semangkuk bubur, putih dianggap krem

dunia saat ini duduk, mengaso setelah tiap hari bermimpi
mendurhakai amanat adalah keraguan.... sedikit saja, ah... dunia selalu dewasa !

Saya jadi jengah lihat kepiting,....
dan malu pada ikan bandeng, juga sebakul nasi,

gila! Saya sudah jongkok...
berpeluh dan meluruh jibun keringatku

menjauh sekarang !

pergi dari WC ini keparat !!!!

Sepotong Sajak di Kota Lain

dulu,

ceceran air mata itu jatuh di kedai fried chicken,
bersuara pelan, lamban kau utarakan cerita kesedihan

pernah pula kita berpesta kecil-kecilan ditemani 2 piring pisang bakar dan orange juice
dengan alunan musik merdu merayu di cafe penuh sesak orang-orang tolol
yang merayakan kebodohan valentine....

dari bioskop tua setelah menyimak drew barrymore
aku menggandeng tanganmu melihat rinai hujan
dan menunggu malam pasti selalu menyebalkan.... itu pasti

kini,

kita terlalu renta untuk mengingat masa dahulu
di zaman remaja lupa pada sila-sila Pancasila
dimana lagu melayu jadi idola....

bah.... hidup memang selalu berganti
dan ini hanya ingatan kabur sebuah keterakhiran
menuju pendahuluan yang selalu menuju ke stagnan

saatnya kita menyadur mimpi.... sebuah permulaan di kota lain
tentunya....

rona merah di ujung siang

seikat puisi sudah berarak di mega-mega
menghantar kepulangan diam tak bertepi

membakar pluralitas itu kejam !

aku bersungut menahan riak
sepertinya sengat matahari belum berhenti
menguliti dedaunan pada siang 9

mari mengayuh lebih kencang
mendahului angin lautan utara

rona itu masih memerah pada 992009....

ode untuk sebuah dosa

gelap terkesiap menanar ramah
membekukan binar-binar putih mayapada

ah.... aku biasa terkesiap
pada rona paras dunia
sebuah kemajemukan adalah nisbi

dinding ini masih membatu
tertempel indah di baju fanaku
merapati tuhan adalah kewajibanku

lalu,.... siapa yang menang?

Puisi Puasa

Dulu ada remah roti tercecer di jamban, menggelayut menenangkan dan bersemayam.... alangkah indahnya, sekarang bulanpun terlihat nyata tersabit langit hingga arak-arakan awan serasa memukau

senjapun dirindu berpulang di kandang macan, sedangkan aku sekarang biasa berteman macan
dan diludahi dinosaurus. banyak potongan hikayat yang hilang tersembunyi di bebatuan Medinah
mungkin hanya beberapa,.... tersadar rasakan tiupan angin !

"Kita kehilangan cerita langit dan sepotong surat Makrifat" katanya bertengadah
"Kita juga kehilangan pena Sang Ronggowarsito !" katanya mengaum marah,.... sangat marah !!!!

Dunia sudah tercemari kemuliaan, malaikat berkedok Napoleon dan Iblispun bertopeng Gandhi !
Sudahlah .... mari menenangkan diri dibawah pohon bodhi.... sekarang !

Lintang Biru

Semerbak bunga merona mengharu biru terpatri jadi terik surya sang pramaditha
lantas bahana menggema di atas ufuk transisi para penghuni gerbang surga
di atas andromeda, langkah kaki dewata bertafakur riang merapati hingar bingar prosesi mencipta

ya.... penciptaan telah memukau banyak malaikat, hingga sang putri terseok di jembatan pelangi
memerah pias wajah penguasa bintang, membentang pasang halilintar dari gugusan bintang biru sampai ujung semesta....

khalayak langit bersembah syukur pada sang pendisain mayapada, tercipta lagi manusia pilihan penguasa dunia, sang penabur mulia dan moyang dari dunia....

Catatan Segelas Kopi

Sebelah kanan meja ini aku berada, diam menanti cakrawala yang akan hanyut di tepi horizon
Aku diam tak bergegas, hanya kecipak berurut suara tuts bergema disampingku....
Majikankupun diam sendirian seperti terpana pada layar kaca !
Sungguh !!!! aku sudah ingin dihilangkan saat ini !
Aku ingin ada di gua kekosongan, meniduri mimpi-mimpi Sang Majikan....
Ah.... waktu berjalan sangat lambat,.... pelan.... dan selalu tak pasti!!!